Tampilkan postingan dengan label PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 April 2024

PENGENDALIAN BULAI PADA TANAMAN JAGUNG

                                          

            Jagung sebagai salah satu makanan pokok pengganti beras adalah komoditas strategis di Indonesia. Kebutuhan jagung sebagai pemenuh bahan pangan dan pakan terus meningkat. Apalagi dengan semakin berkembangnya peternakan ayam baik pedaging maupun petelur yang sampai ke pelosok negeri menjadikan jagung sebagai komoditas yang sangat dicari.

Saat ini produksi jagung dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan domestik karena permintaannya semakin meningkat. Dengan berkembang pesatnya industri peternakan, jagung merupakan komponen utama (60%) dalam ransum pakan. Diperkirakan lebih dari 55% kebutuhan jagung dalam negeri digunakan untuk pakan, sedangkan untuk konsumsi pangan hanya sekitar 30%, dan sisanya untuk kebutuhan industri lainnya dan benih. Dengan demikian, peran jagung sebetulnya sudah berubah lebih sebagai bahan baku industri dibanding sebagai bahan pangan.

Upaya peningkatan produksi jagung terkadang mengalami kendala biotik dan abiotik. Kendala abiotik meliputi kekeringan, kekurangan unsur hara, kemarau dan lain sebagainya. Sementara kendala abiotik berupa serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). OPT berasal dari 3 golongan yakni patogen, hama, dan gulma. Ketiga OPT tersebut berasosiasi di pertanaman sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dibudidayakan menjadi terhambat bahkan beberapa jenis OPT dapat mengakibatkan pertanaman menjadi gagal panen. Kondisi tersebut terjadi saat lingkungan mendukung perkembangan OPT tanaman, sementara varietas tanaman yang di tanaman merupakan varietas rentan. Beberapa spesies OPT baik hama maupun patogen menjadi OPT penting pada suatu jenis tanaman, salah satunya ialah Oomycetes Peronosclerospora spp. penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung.

Peronosclerospora spp. menyerang tanaman jagung yang masih muda dengan gejala lokal dan sistemik sehingga terkadang tanaman tidak bisa menghasilkan tongkol (Semangun 1993). Patogen ini menyebar luas di wilayah tropis dan subtropis yang mengembangkan tanaman jagung. Penyakit bulai masih mendominasi penyebab kegagalan panen pada pertanaman jagung. Penyakit bulai yang sudah mewabah akan menyebabkan kehilangan hasil minimal 30 % bahkan tanaman tidak akan menghasilkan sama sekali.

Penyakit bulai menjadi bumerang bagi petani jagung di seluruh wilayah pengembangan jagung nasional. Beberapa daerah di Indonesia telah dilaporkan endemis bulai. Dampaknya selain menyebabkan penurunan produksi, juga menimbulkan trauma bagi masyarakat untuk menanam jagung kembali. Dilaporkan bahwa kehilangan hasil akibat penyakit ini berkisar 50-80% di beberapa wilayah sentra pengembangan jagung seperti Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Barat. Kerugian yang besar tersebut akan tetap terjadi selama kendala pengelolaan penyakit bulai belum teratasi, antara lain keterbatasan teknologi pengendalian yang hanya bertumpu pada penggunaan varietas tahan dan fungisida.

Penyebab penyakit bulai merupakan anggota golongan Oomycetes (Peronosporomycetes), suatu kelompok takson yang relatif kecil dengan perkiraan <1.000 spesies. Karena kemiripan secara morfologi, fisiologi, dan ekologi yang mirip dengan kapang, Oomycetes sering dianggap sebagai jamur, akan tetapi data filo genetik ultra struktural, biokimia, dan molekuler memastikan bahwa mereka tidak berkerabat secara langsung dengan jamur sejati (kingdom fungi), tetapi masuk ke dalam kingdom Chromista.

Penyakit bulai disebabkan oleh oomycetes Peronosclerospora spp. yang penularan sporanya pada tanaman jagung terbawa oleh angin di pagi hari. Sumber inokulum penyakit bulai tergantung pada spesies patogennya. Sumber inokulum dapat berupa oospora yang merupakan spora bertahan saat kondisi musim dingin atau konidia dari tanaman terinfeksi yang ada di sekitar pertanaman baru. Beberapa spesies patogen bulai bersifat tular benih, namun terbatas pada benih yang segar dan memiliki kadar air tinggi.

Pada awal musim tanam, pada kondisi suhu tanah di atas 20°C, oospora dalam tanah berkecambah sebagai respons terhadap eksudat akar dari bibit jagung yang rentan. Tabung kecambah menginfeksi bagian tanaman dibawah permukaan tanah dan menyebabkan gejala sistemik termasuk klorosis dan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil. Ketika oospora menginisiasikan infeksi, daun pertama umumnya bebas penyakit, berbeda halnya jika patogen terbawa benih seluruh bagian tanaman akan menunjukkan gejala penyakit. Oospora dilaporkan bertahan hidup di alam hingga 10 tahun.

Penyakit bulai dapat menular dari tanaman sakit sebagai sumber inokulum ke tanaman sehat. Faktor lingkungan dan struktur morfologi daun tanaman jagung merupakan pemicu utama gagalnya konidia berkecambah. Perkecambahan merupakan kondisi yang paling lemah dan peka terhadap perubahan faktor lingkungan. Perubahan lingkungan yang drastis akan menyebabkan kematian tabung kecambah sehingga tidak terjadi infeksi. Selain itu, perkecambahan memerlukan suhu yang sesuai dan kelembaban dalam bentuk lapisan air pada permukaan tanaman atau tanah. Keadaan basah atau bentuk lapisan air ini harus berlangsung cukup lama hingga patogen mampu masuk atau melakukan penetrasi ke dalam sel atau jaringan. Jika hanya berlangsung sebentar maka patogen akan kekeringan dan mati, sehingga gagal melakukan serangan.

Faktor utama yang mendorong percepatan perkembangan penyakit bulai ialah suhu udara yang relatif tinggi yang disertai kelembaban tinggi. Curah hujan yang tinggi dan hujan sering terjadinya pada malam hari dapat meningkatkan kelembaban yang tinggi sehingga perkembangan penyakit bulai juga meningkat.

Penyakit bulai umumnya ditemukan di dataran rendah dan jarang menyerang di daerah dataran tinggi dari 900-1.200m. Infeksi hanya terjadi jika ada air, baik air embun, air hujan atau air guttasi. Di waktu malam dalam corong daun tanaman jagung muda selalu terdapat air guttasi. Suhu lingkungan saat malam hari sampai menjelang pagi dibawah 24°C dan kondisi daun berembun memicu pembentukan sporangia yang tinggi.

Penyebaran penyakit bulai dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya jarak tanaman, angin dan hujan. Meskipun patogen ini berada sistemik dalam biji, tapi jika biji dikeringkan hingga 14%, maka tidak lagi terinfeksi. Oospora dapat disebarkan melalui benih, angin dan air. Oospora dapat bertahan beberapa tahun pada kondisi yang menguntungkan.

Jarak tanaman merupakan masalah praktis di lapangan yang sangat menentukan dalam usaha meningkatkan hasil. Selain itu, semakin dekat jarak tanaman akan mempengaruhi perkembangan penyakit. Hal ini dikarenakan kondisi kelembaban yang tinggi dan rendahnya paparan sinar matahari yang sampai pada tanaman sehingga menguntungkan bagi perkembangan patogen.

Angin diketahui sebagai salah satu penyebar konidia patogen yang dapat menjangkau jarak yang jauh. Penyebaran konidia Peronosclerospora spp. pada musim kemarau sangat baik dikarenakan kecepatan angin lebih tinggi dibandingkan saat musim hujan. Pada bulan kering, kecepatan angin menjadi pemicu utama untuk pembebasan spora. Pemencaran spora didukung oleh tingginya suhu dan sinar matahari dengan intensitas dan waktu yang lama serta menurunnya kelembaban udara.

Pola sebaran penyakit bulai terjadi secara acak. Mekanisme penularan bulai adalah tanaman sakit pada awal musim terjadi infeksi konidia dari luar pertanaman. Selanjutnya penyakit akan berkembang dari hasil penularan konidia tanaman sakit di dalam pertanaman. Puncak penularan terjadi pada minggu ke-4. Besarnya intensitas serangan penyakit bulai sangat ditentukan oleh waktu infeksi. Semakin awal terjadi infeksi, maka akan diikuti dengan intensitas penyakit tinggi. Hal ini terjadi disebabkan oleh sifat penularan bulai mengikuti pola penyakit majemuk. Infeksi primer terjadi melalui penularan konidia yang berasal dari luar pertanaman. Hal ini terjadi pada awal tanam, selanjutnya infeksi primer akan menghasilkan infeksi sekunder selang 1 minggu kemudian. Infeksi sekunder (siklus polisiklik) dapat terjadi antara 2-5 MST.

Melihat pola penyebaran penyakit bulai, maka upaya penundaan infeksi pada awal tanam mempunyai peranan sangat penting dalam menekan intensitas penyakit. Penundaan infeksi sampai 2 MST hanya menyebabkan tingkat kerusakan yang rendah. Upaya pengendalian dengan pengaturan waktu tanam dapat menunda terjadinya epidemi penyakit.

Peronosclerospora spp. menyerang tanaman masih muda, gejala mulai ditemukan saat tanaman berumur 2-3 MST. Penyakit dapat dikenali dengan terbentuknya struktur jamur menyerupai tepung pada permukaan daun. umumnya petani kurang menghiraukan keberadaan tanaman sakit dan dipertahankan hingga dewasa. Hal ini berarti keberadaan sumber inokulum bulai sebenarnya dengan mudah dapat dijumpai di pertanaman jagung, sementara petani juga tidak melakukan tindakan pengendalian penyakit.

Daun yang baru saja membuka pada tanaman terinfeksi bulai mempunyai bercak-bercak klorotis kecil-kecil. Bercak ini akan berkembang menjadi jalur yang sejajar dengan tulang induk berwarna putih sampai kekuningan pada permukaan daun, diikuti oleh garis-garis klorotik. Daun berbentuk kaku, tegak dan menyempit karena adanya benang-benang patogen dalam ruang antar selnya. Ciri lainnya, pada pagi hari di sisi bawah daun terdapat lapisan tepung berwarna putih. Gejala yang ditemukan jika perakaran tanaman jagung dicabut terlihat ada akar menggerombol tidak berkembang sehingga mengganggu proses transfer hara ke daun dan seluruh tanaman sehingga tampak pucat.

Serangan penyakit bulai menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan pembentukan tongkol terganggu, bahkan tidak bisa berongkol sama sekali. Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Tanaman jagung mengalami periode kritis saat tanaman berumur antara umur 1 – 5 minggu setelah tanam (MST), apabila selama masa periode kritis tersebut tanaman tidak menimbulkan gejala serangan maka tanaman jagung akan tumbuh normal dan bisa menghasilkan tongkol. Peningkatan suhu dan kelembaban setelah pemberian urea dapat mempercepat perkembangan penyakit ini. Sementara, jika infeksi terjadi pada tanaman yang lebih tua, tanaman akan terus tumbuh dan membentuk tongkol. Tongkol yang terbentuk lebih panjang dengan kelobot yang tidak menutup pada ujungnya dan hanya membentuk sedikit biji.


Berikut ini beberapa tindakan pengendalian yang dapat dilakukan petani guna menekan serangan penyakit bulai di pertanaman diantaranya :

1.  Kultur Teknik

Ø Eradikasi Tanaman

Eradikasi tanaman sakit bertujuan untuk menekan penyebaran penyakit. Apabila ditemukan tanaman yang memperlihatkan gejala penyakit bulai di antara pertanaman jagung maka segera dicabut dan disimpan ditempat yang sama. Tanaman sakit yang disaput diupayakan tidak diangkut terlalu jauh karena adanya peluang spora yang melekat pada daun jatuh pada tanaman sehat yang dilewati. Pencabutan tanaman sakit dan langsung disimpan di lokasi yang sama cukup menekan sumber inokulum penyakit. Konidia dari tanaman sakit yang telah dicabut, jika tersimpan beberapa jam akan mati dikarenakan sifat obligat yang dimiliki oleh patogen bulai.

Ø Pengaturan Waktu Tanam

Tanaman jagung paling rentan terkena bulai pada saat tanaman mulai berkecambah hingga tanaman berumur 5 minggu setelah tanam. Penyakit bulai banyak berkembang pada waktu peralihan musim kemarau ke musim penghujan atau sebaliknya. Oleh karena itu, diupayakan pada saat terjadi peralihan musim, tanaman jagung sudah berumur lebih dari satu bulan.          

Ø Penanaman Serempak

Patogen penyebab bulai hanya dapat bertahan hidup dan berkembang pada tanaman yang hidup. Patogen tersebut tidak dapat hidup di tanah dan tanaman yang mati. Penanaman jagung secara serempak akan menekan serangan patogen penyebab bulai karena fase pertumbuhan tanaman relatif sama.

Periode bebas tanaman jagung hal ini dikhususkan ke daerah-daerah endemik bulai dimana jagung ditanam tidak serempak, sehingga terjadi variasi umur yang menyebabkan keberadaan bulai di lapangan selalu ada, sehingga menjadi sumber inokulum untuk pertanaman jagung berikutnya.

Rotasi tanaman dilakukan dengan tujuan untuk memutus ketersediaan bulai di lapangan dengan menanam tanaman bukan dari golongan serealia.

 

2.  Pengendalian Hayati

Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan mikroba-mikroba yang ada di sekitar kita. Mikroba tersebut dapat diisolasi dari beberapa sumber diantaranya endofit tanaman maupun rhizosfer tanaman. Mikroba endofit merupakan mikroba yang hidup di dalam jaringan tanaman sehat tanpa menyebabkan gejala infeksi atau kerusakan pada tanaman inang. Keuntungan dengan adanya mikroba endofit pada tanaman inang adalah dapat menekan serangan penyakit dan ketahanan sistemik atau terinduksi terhadap infeksi patogen. Ketahanan terinduksi merupakan ketahanan tanaman terhadap infeksi patogen karena tanaman sebelumnya telah terinfeksi oleh mikroorganisme lain, baik dari jenis yang sama maupun dari jenis yang lain.

 

3.  Penggunaan Varietas Tahan

Salah satu strategi pengembangan tanaman jagung pada daerah endemik bulai adalah penggunaan varietas tahan. Langkah awal untuk perakitan varietas jagung tahan bulai adalah melakukan seleksi terhadap galur-galur yang ada untuk mengetahui reaksinya terhadap cekaman bulai. Karakteristik fenotipik dan genotipik tahan cekaman bulai pada galur dan populasi plasma nutfah jagung digunakan sebagai informasi pemulai dalam pembentukan inbrida elit tahan bulai.

Dalam penerapan varietas tahan bulai untuk pengendalian penyakit bulai, pemerintah Indonesia telah membuat aturan, dalam pelepasan varietas jagung harus memiliki sifat ketahanan terhadap penyakit bulai. Hal ini amat penting karena sekalipun telah dilepas, apabila tidak tahan bulai tidak akan tersebar luas karena bisa gagal panen akibat penyakit bulai yang telah tersebar luas di Indonesia.

Beberapa varietas tahan penyakit bulai yaitu varietas yaitu Bima-3, Bima-7, Bima-8, Bima-9, Bima-14 Batara, Bisi-3, Bisi-4, Bisi-5, Bisi-6, Bisi-7, Bisi-8, Bisi-9, Bisi-12, Bisi-13, dan Bisi-15. Varietas lainnya yang diketahui agak tahan terhadap bulai yaitu Bima-1, Bima2 Bantimurung, dan Bima-15 Sayang.

4.  Kimiawi

Komponen pengendalian penyakit bulai yang umum dilakukan selama ini adalah perlakuan benih dengan fungisida saromil atau ridomil yang berbahan aktif metalaksil, karena praktis dan mudah dilakukan, bahkan petani tidak perlu melakukan tindakan apapun, hanya menanam benih jagung yang sudah diberi perlakuan fungisida. Umumnya benih jagung yang diperjualbelikan di pasaran telah diberi perlakuan fungisida metalaksil (benih terselubung dengan fungisida warna merah jambu). Adapun rekomendasi dosis penggunaan metalaksil ialah 2-3 gr/kg benih untuk mengendalikan spesies P. philipinensis, sementara 5 gr/kg benih untuk mengendalikan P. Maydis.

Fungisida sistemik lainnya yang umum digunakan untuk mengendalikan penyakit bulai, yaitu quinone outside inhibitors (QoI, seperti azoksistrobin, famoksadon dan fenamidon), fenilamid (seperti mefenoxam), carboxylic acid amides (misalnya dimetomorf), dan cyanoacetamidoximes (seperti cymoxanil).

Pengendalian penyakit bulai dapat juga dilakukan dengan penyemprotan tanaman terserang dengan menggunakan fungisida sistemik pada umur 10 – 22 hari melalui daun.  Lakukan penyemprotan berulang pada fase riskan tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui frekuensi perlakuan fungisida sistemik sebanyak 2, 3 atau 4, 5 kali sampai tanaman berumur 22 hari.

Penggunaan satu jenis fungisida secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama dapat memicu resistensi patogen terhadap fungisida tersebut. Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain dengan menggabungkan beberapa jenis fungisida yang mempunyai mekanisme kerja yang berbeda menjadi satu, baik sebagai formula maupun tank - mixed . Fungisida campuran tersebut selain memberikan pengendalian penyakit tanaman lebih baik dibandingkan dengan fungisida berbahan aktif tunggal, juga dapat menunda terbentuknya populasi patogen yang resisten terhadap fungisida.


Oleh : Zuni Fitriyantini, S.TP.

 

REFERENSI :

1. Muis, A. dkk. 2018. Penyakit Bulai Pada Tanaman Jagung Dan Upaya Pengendaliannya. Yogyakarta. Deepublish Publisher.

2. Prasetyo, T. dkk. 2013. Jagung : Teknologi Produksi dan Manajemen Usahatani. PISAgro. BPTP Jawa Tengah bekerja sama dengan PT. Syngenta Indonesia. Semarang.

Kamis, 02 Januari 2020

PESTISIDA NABATI PENANGKAL HAMA RAMAH LINGKUNGAN

 Kampanye pertanian organik telah bergema ke seluruh penjuru dunia. Gerakan tersebut membuka banyak mata tentang bahaya residu bahan kimia, terutama pestisida terhadap kesehatan. Semakin banyak konsumen cerdas dengan tingkat kesejahteraan tinggi berani membayar mahal untuk produk – produk organik yang bebas pestisida dan bahan kimia lainnya.

            Hal tersebut menciptakan peluang bisnis bagi petani yang mampu menangkap kesempatan tersebut. Dengan pengurangan penggunaan bahan kimia pada lahan pertanian, terutama pestisida, petani mampu menjual hasil panennya dengan harga yang lebih baik. Hal ini tentu dapat dijadikan jalan untuk meningkatkan taraf hidup petani dan keluarganya.

Namun hal itu bukanlah semudah membalikan telapak tangan. Apalagi dengan keberadaan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) yang daya serangnya lebih tinggi. Salah satu solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan penggunaan pestisida nabati.

Pestisida nabati merupakan salah satu solusi dalam pengendalian serangan hama yang ekonomis dan ramah lingkungan. Penggunaan pestisida nabati juga akan meningkatkan mutu hasil panen. Apalagi bila diimbangi dengan penggunaan pupuk organik.

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan (Botanical Pesticide). Pestisida nabati bersifat mudah terdegradasi di alam (Bio-degredable), sehingga residunya pada tanaman dan lingkungan tidak signifikan.

Bahan aktif pestisida nabati merupakan produk alam yang berasal dari tanaman yang mempunyai kelompok metabolit sekunder yang mengandung beribu-ribu senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, fenolik, dan zat – zat kimia sekunder lainnya. Senyawa bioaktif tersebut apabila diaplikasikan ke tanaman yang terinfeksi OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), tidak berpengaruh terhadap fotosintesis pertumbuhan ataupun aspek fisiologis tanaman lainnya, namun berpengaruh terhadap sistem saraf otot, keseimbangan hormone, reproduksi, perilaku berupa penarik, anti makan dan sistem pernafasan OPT.

    Aplikasi pestisida nabati perlu mendapat perhatian untuk dikembangkan, karena jenis pestisida ini mudah terurai di lingkungan, kurang beracun terhadap jasad berguna, relatif lebih murah dan mudah diperoleh. Lebih dari 1500 jenis tumbuhan dari berbagai penjuru dunia diketahui dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Di Indonesia terdapat 50 famili tumbuhan penghasil racun. Famili tumbuhan yang dianggap merupakan sumber potensial insektisida nabati antara lain Meliaceae, Annonaceae, Asteraceae, Piperaceae dan Rutaceae.

-       Keluarga Meliaceae : Mimba / Azadirachta indica A. Juss. ; Mindi / Melia azedarach L ; Mahoni / Swietenia macrophylla Suren / Toona sureni

-        Keluarga Annonaceae : Sirsak / Annona muricata Srikaya / Annona squamosa;

-     Keluarga Asteraceae : Bunga Matahari / Helianthus annuus; Kenikir / Cosmos caudatus; Bunga Kertas /Zinnia Sp. ; Bunga Marigold / Tagetes Sp.; Babandotan / Ageratum conyzoides; Krisan / Chrysanthemum indicum L.

Selain bersifat sebagai insektisida, jenis-jenis tumbuhan tersebut juga memiliki sifat sebagai fungisida, virusida, nematisida, bakterisida, mitisida maupun rodentisida. Jenis pestisida yang berasal dari tumbuhan tersebut dapat ditemukan di sekitar tempat tinggal petani, dapat disiapkan dengan mudah menggunakan bahan serta peralatan sederhana.

Pestisida nabati dapat berfungsi sebagai :

(1) penghambat nafsu makan (anti feedant);

(2) penolak (repellent);

(3) penarik (atractant);

(4) menghambat perkembangan;

(5) menurunkan keperidian;

(6) pengaruh langsung sebagai racun dan

(7) mencegah peletakkan telur.

Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menggunakan pestisida nabati adalah keunggulan dan kelemahan penggunaan pestisida nabati tersebut. Keunggulan pestisida nabati antara lain :

(1) mengalami degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari;

(2) memiliki efek/pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan nafsu makan serangga walapun jarang menyebabkan kematian;

(3) toksitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relatif lebih aman pada manusia (lethal dosage (LD) >50 Oral);

(4) memiliki spektrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif;

(5) dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida sintetis;

(6) fitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman dan

(7) murah dan mudah dibuat oleh petani.

Kelemahan pengggunaan pestisida nabati antara lain :

(1)  cepat terurai dan aplikasinya harus lebih sering;

(2)  daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan serangga/memiliki efek lambat);

(3) kapasitas produksinya masih rendah dan belum dapat dilakukan dalam jumlah massal (bahan tanaman untuk pestisida nabati belum banyak dibudidayakan secara khusus);

(4) ketersediaannya di toko-toko pertanian masih terbatas;

(5) kurang praktis dan

(6) tidak tahan disimpan.

PETUNJUK UMUM PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI

Secara umum penguasaan teknologi dalam pembuatan pestisida nabati, mulai dari teknik penyediaan bahan baku sampai produksi masih terbatas. Cara sederhana pemanfaatan pestisida nabati yang umum dilakukan oleh petani di Indonesia dan di negara berkembang lainnya adalah :

-     Penyemprotan cairan hasil perasan tumbuhan (ekstraksi menggunakan air),

-     Pengolahan sederhana,

-     Penempatan langsung atau penyebaran bagian tumbuhan di tempat – tempat tertentu pada lahan pertanaman,

-     Pengasapan (pembakaran bagian tanaman yang mengandung bahan aktif pestisida),

-     Penggunaan serbuk tumbuhan untuk pengendalian hama di penyimpanan, dan

-     Pembuatan pestisida nabati dengan cara fermentasi.

 PROSES PEMBUATAN PESTISIDA NABATI

Bagian tanaman seperti daun, bunga, biji dan akar bisa digunakan untuk pengendalian OPT dalam bentuk bubuk (bahan dikeringkan kemudian digiling atau ditumbuk) dan larutan hasil ekstraksi. Sebelum digunakan bahan-bahan di atas dicampur dengan larutan sabun/detergent dan direndam semalam, setelah itu siap digunakan. Hal lain yang harus diperhatikan sebelum membuat ramuan pestisida nabati adalah mengetahui terlebih dahulu hama atau penyakit yang menyerang tanaman.

Proses ekstraksi sederhana dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

1. Ekstraksi bahan segar dengan air :

a. Pengumpulan bahan/penyortiran

b. Pencucian

c. Penghancuran (diblender/ ditumbuk)

d. Perendaman dalam air selama (1 – 3 hari)

e. Penyaringan/pemerasan larutan hasil ekstraksi

f. Larutan hasil ekstraksi siap pakai

2. Ekstraksi bahan kering dengan air :

a. Pengumpulan bahan/penyortiran

b. Pengeringan

c. Pencucian

d. Penghancuran

e. digiling atau ditumbuk

f. Perendaman dalam air selama (1 – 3 hari)

g. Penyaringan/pemerasan larutan hasil ekstraksi

h. Larutan hasil ekstraksi siap pakai

Pembuatan pestisida nabati skala kecil secara sederhana bisa dilakukan oleh petani biayanya lebih murah dan memberikan nilai lebih dalam menekan biaya produksi usahatani.

Petunjuk pembuatan dan aplikasi pestisida yang berasal dari ekstrak tanaman:

1.   Pilih tanaman/bagian tanaman yang yang sehat (bebas dari serangan OPT).

2.   Apabila bahan pestisida akan disimpan dalam jangka waktu yang relatif lama, pastikan bahwa bagian tanaman yang akan digunakan tersebut benar-benar kering dan disimpan pada tempat yang mempunyai ventilasi.

3. Untuk membuat ekstrak tanaman, gunakan peralatan khusus. Bersihkan peralatan tersebut setelah digunakan.

4.  Pada saat pembuatan dan aplikasi ekstrak tanaman, usahakan jangan kontak secara langsung dengan ekstrak tanaman tersebut.

5.  Simpanlah sediaan pestisida nabati di tempat khusus, tidak terjangkau oleh anak – anak dan hewan peliharaan.

6.  Bila akan menggunakan biji tanaman, pastikan bahwa biji tersebut benar – benar kering.

7.  Sebelum ekstrak tanaman digunakan dalam skala luas, buat percobaan dahulu pada skala yang lebih kecil.

8.  Gunakan pakaian pelindung diri pada saat aplikasi pestisida nabati.

9.  Jangan menyemprot berlawanan dengan arah angin dan saat angin kencang.

10.  Jangan menyemprot ketika turun hujan.

11.  Basuh tangan setelah aplikasi pestisida nabati.

12.  Cucilah pakaian kerja setelah menggunakan pestisida nabati.

Efektivitas suatu bahan-bahan alami yang digunakan sebagai pestisida nabati sangat tergantung pada bahan tumbuhan yang dipakai, karena satu jenis tumbuhan yang sama tetapi berasal dari daerah yang berbeda dapat menghasilkan efek yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan sifat bioaktif atau sifat racunnya tergantung pada kondisi tumbuh, umur tanaman dan jenis dari tumbuhan tersebut.

Demikian pembahasan tentang pestisida nabati. Semoga mampu menggugah semangat bertani kembali ke alam, go organic !

Oleh               : Zuni Fitriyantini, S.TP.

Sumber          :

Moekasan, T K. dan Prabaningrum, L.. 2011. Penggunaan Pestisida Berdasarkan Konsepsi Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Yayasan Bina Tani Sejahtera : Lembang.

Munarso, S.J. et al. 2012. Pestisida Nabati. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor.

Selasa, 26 Juni 2018

HAMA PADA TANAMAN JAGUNG




Peningkatan produksi pada budidaya jagung menjadi salah satu tuntutan utama petani. hal ini pun telah menjadi perhatian pemerintah, khususnya kementerian pertanian dengan salah satu programnya yang berjudul UPSUS PAJALE (Upaya Khusus Padi Jagung Kedelai) belum lama ini. Dalam dua tahun belakangan, pemerintah memberi bantuan benih jagung serta pupuk guna mendorong peningkatan produksi.

Salah satu kendala dalam peningkatan produksi jagung adalah serangan hama dan penyakit. Beberapa jenis hama yang penting yaitu lalat bibit (Atherigona sp.), ulat tanah (Agrothis sp.), lundi/uret (Phylophaga hellen), penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), ulat grayak (Spodoptera litura, Mythimna sp.), penggerek tongkol (Helicoverpa armigera), dan wereng jagung (Peregrinus maydis). Berikut akan dibahas satu persatu hama pada tanaman jagung berdasarkan umur tanam.

Jenis hama tanaman jagung pada fase vegetatif (0–14 hari setelah tanam)

1. Lalat bibit (Atherigona sp.)
 Lalat bibit berukuran kecil, telur berbentuk memanjang dan diletakkan pada daun termuda (hypocoty). Setelah 48 jam telur menetas pada waktu malam, tempayak keluar dari telur lalu bergerak cepat menuju titik tumbuh yang merupakan makanan utamanya. Hama ini mulai menyerang tanaman semenjak tumbuh sampai tanaman berumur sekitar satu bulan. Tempayak lalat bibit menggerek pucuk tanaman dan masuk sampai ke dalam batang.
Lalat bibit menyukai tanaman muda yang berumur antara 6 sampai 9 hari setelah tanam (HST) untuk meletakkan telurnya. Pada saat itu tanaman baru berdaun 2–3 helai dan pada umumnya telur lalat terbanyak diletakkan pada daun pertama. Pada kedalaman tertentu biasanya tempayak ini bergerak lagi kebagian atas tanaman setelah menggerek batang, selanjutnya keluar untuk berpupa di dalam tanah. Pada serangan berat, tanaman jagung dapat menjadi layu ataupun mati dan jika tidak mati pertumbuhannya terhambat.
Lalat bibit cepat berkembang biak dengan pada kelembaban tinggi, oleh karena itu di musim hujan lalat ini merupakan hama utama jagung. Siklus hidupnya berkisar 15–25 hari. Seekor lalat bibit betina mampu bertelur 20–25 butir. Untuk pengendaliannya menggunakan varietas tahan dan seeds treatment melalui tanah pada waktu tanam atau diberikan pada kuncup daun pada umur tanaman satu minggu dengan dosis 0.24 kg b.a/ha.

2. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hwfn.)


Ngengat Agrotis ipsilon meletakkan telur satu persatu dalam barisan atau diletakkan rapat pada salah satu permukaan daun pada bagian tanaman dekat dengan permukaan tanah. Seekor ngengat betina dapat bertelur ± 1800 butir. Stadia telur 6–7 hari. Larva muda bersifat fototaksis, sedang larva yang lebih tua bersifat geotaksis sehingga pada siang hari bersembunyi di dalam tanah dan muncul kembali untuk makan pada malam hari. Satu generasi dapat berlangsung 4–6 minggu. Pengendalian : tanam serentak, dapat pula dilakukan penggenangan.

3. Lundi (uret) (Phyllophaga hellen)

Kumbang muncul atau terbang setelah ada hujan pertama yang cukup lebat sehingga menyebabkan tanah cukup lembab. Telur diletakkan satu persatu di dalam tanah. Stadium telur 10 -11 hari. Stadium larva aktif ± 5,5 bulan dan larva tidak aktif sekitar 40 hari. Larva menyerang tanaman jagung dibagian perakaran, sehingga mengakibatkan tanaman menjadi layu dan dapat rebah atau mati. Pengendalian : pergiliran tanaman atau mengolah tanah dengan baik untuk mematikan larva.

Jenis hama tanaman jagung pada fase vegetatif (15 – 42 hari setelah tanam)

1. Penggerek batang (Ostrinia furnacalis Guenee)
Pada umumnya telur Ostrinia furnacalis yang mencapai 90 butir diletakkan pada tulang daun bagian bawah dari tiga daun teratas. Ulat yang keluar dari telur menuju bunga jantan dan menyebar bersama angin. Ada pula yang langsung menggerek tulang daun yang telah terbuka, kemudian menuju batang dan menggerek batang tersebut serta membentuk lorong mengarah ke atas. Setelah sampai dibuku bagian atas, ulat segera turun kebuku bagian bawah. Ulat berpupa di dalam batang. Seekor ngengat betina mampu bertelur 300– 500 butir. Siklus hidup 22–45 hari. Batang tanaman jagung biasanya patah-patah kemudian tanaman mati karena terhentinya translokasi hara dari akar tanaman ke daun. Pengendalian : dengan menggunakan insektisida Carbofuran 3% di pucuk tanaman sebanyak 2-3 g pertanaman.

2. Ulat grayak (Spodoptera litura F., Mythimna separata)

 Ulat ini muncul dipertanaman setelah 11 – 30 HST. Serangan pada tanaman muda dapat menghambat pertumbuhan tanaman bahkan dapat mematikan tanaman. Serangan berat pada pertanaman dapat mengakibatkan tinggal tulang-tulang daun saja. Ngengat betina meletakkan kelompok- kelompok telur yang ditutupi bulu-bulu halus berwarna merah sawo pada permukaan bawah daun. Setiap kelompok telur terdiri dari 100 – 300 butir. Seekor ngengat betina mampu bertelur 1000 – 2000 butir. Masa telur 3 – 4 hari, ulat 17 – 20 hari, kepompong 10 – 14 hari. Siklus hidupnya 36 – 45 hari. Pengendalian: dengan menggunakan insektisida Carbofuran 3% diberikan pada pucuk tanaman.

3. Wereng Jagung (Peregrinus maidis Ashm.)
Bentuk dan ukuran serangga dewasa mirip dengan hama wereng coklat dewasa yang meyerang padi. Siklus hidup 25 hari, masa telur 8 hari, telurnya berbentuk bulat panjang dan agak membengkok (seperti buah pisang), warna putih bening yang diletakkan pada jaringan pelepah daun secara terpisah atau berkelompok. Nimpa mengalami 5 instar, instar pertama berwarna kemerah-merahan kemudian berangsur-angsur berubah menjadi putih kekuning-kuningan. Disepanjang permukaan atas badannya terdapat bintik-bintik kecil berwarna coklat. Instar pertama menyukai daun-daun yang baru tebuka, pelepah daun, kelopak daun dan bunga jantan yang masih muda dan lunak. Tubuh wereng dewasa berwarna kuning kecoklatan, sayap bening dan kedua mata berwarna hitam. Terdapat duri pada tibia belakang yang dapat berputar. Serangga dewasa ada yang mempunyai sayap panjang dan ada pula bersayap pendek. Mempunyai bintik pada ujung sayap dan bergaris kuning pada belakangnya. Sedangkan pada yang bersayap pendek mempunyai sayap transparan dengan bintik warna gelap. Keduanya mempunyai karakteristik dengan corak warna hitam dan putih pada bagian ventral abdomen. Berkembang pada musim hujan lebih dari 500 ekor pertanaman pada umur jagung ± 2 bulan, sedangkan pada musim kemarau populasi relatif rendah hanya 1 – 23 ekor pertanaman. Gejala serangan pada daun tampak bercak bergaris kuning, garis-garis pendek terputus-putus sampai bersambung terutama pada tulang daun kedua dan ketiga. Daun tampak bergaris kuning panjang, begitu pula pada pelepah daun. Pertumbuhan tanaman akan terhambat, menjadi kerdil, tanaman menjadi layu dan kering (hopper burn). Pengendalian : waktu tanam serempak, waktu tanam dilakukan pada akhir musim hujan dan bila menggunakan insektisida gunakan insektisida Carbofuran 3%.

Jenis hama tanaman jagung pada fase generatif penyerbukan dan pembuahan (43–70 hari setelah tanam)

1. Penggerek tongkol (Helicoverpa armigera Hubn.)
    Serangga ini muncul di pertanaman pada umur 45 – 56 hari setelah tanam (HST), bersamaan dengan munculnya rambut-rambut tongkol. Telur diletakkan pada rambut-rambut tongkol secara tunggal, dan menetas setelah ± 4 hari. Ulat ini menjadi pupa di dalam tongkol atau di tanah. Ngengat aktif pada malam hari dan mampu bertelur 600 – 1000 butir. Stadia pupa berkisar antara 12 – 14 hari. Selain menyerang tongkol juga menyerang pucuk dan menyerang malai sehingga bunga jantan tidak terbentuk yang mengakibatkan hasil berkurang. Siklus hidupnya ± 36 – 45 hari. Pengendalian: dengan menggunakan parasit Trichogramma sp.,, menggunakan insektisida bila ditemui 3 tongkol rusak per 50 tanaman pada saat tanaman baru terbentuk buah dengan mengaplikasikan insektisida Carbofuran 3% pada saat menjelang berbunga.

Demikian pembahasan tentang hama yang menyerang tanaman jagung dibagi berdasarkan umur tanaman. Semoga bermanfaat.

Oleh : Zuni Fitriyantini S.TP.

Sumber :
Surtikanti. 2011. Hama dan Penyakit Penting Tanaman Jagung dan Pengendaliannya. Dalam Prosiding Seminar Nasional Serealia 2011. Balai Penelitian Tanaman Serealia.