Tampilkan postingan dengan label PASCA PANEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PASCA PANEN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2021

FERMENTASI PADA KAKAO

 

Kakao merupakan komoditas perkebunan yang menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia. Produksi biji kakao Indonesia secara signifikan terus meningkat, namun mutu yang dihasilkan sangat rendah dan beragam, antara lain kurang terfermentasi, tidak cukup kering, ukuran biji tidak seragam, kadar kulit tinggi, keasaman tinggi, cita rasa sangat beragam dan tidak konsisten. Hal tersebut tercermin dari harga biji kakao Indonesia yang relatif rendah dan dikenakan potongan harga dibandingkan dengan harga produk sama dari negara produsen lain. Namun disisi lain kakao Indonesia juga mempunyai keunggulan yaitu mengandung lemak coklat dan dapat menghasilkan bubuk kakao dengan mutu yang baik.

Salah satu cara untuk meningkatkan mutu biji kakao adalah dengan melakukan fermentasi pada biji kakao hasil panen. Hal ini belum terlalu diperhatikan oleh petani karena tidak signifikannya perbedaan harga antara biji kakao bermutu rendah dan bermutu tinggi. Dengan akan dibangunnya pabrik pengolahan kakao di Kabupaten Batang diharapkan harga biji kakao ditingkat petani dapat meningkat serta  pengepul akan mulai memberikan perbedaan harga yang signifikan untuk biji kakao dengan mutu tinggi. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang fermentasi pada kakao untuk memperoleh biji kakao yang bermutu.

FERMENTASI BIJI KAKAO

Fermentasi merupakan inti dari proses pengolahan biji kakao. Proses ini tidak hanya bertujuan untuk membebaskan biji kakao dari pulp(daging buah) dan mematikan biji saja, namun tujuan dari proses fermentasi ini terutama untuk memperbaiki dan membentuk cita rasa dan aroma cokelat yang enak dan menyenangkan serta mengurangi rasa sepat dan pahit.

Fermentasi dimaksudkan untuk memudahkan melepas zat lendir dari permukaan kulit biji dan menghasilkan biji dengan mutu dan aroma yang baik. Selain itu juga menghasilkan biji yang tahan terhadap hama dan jamur, selama penyimpanan dan menghasilkan biji dengan warna yang cerah dan bersih. Fermentasi dilakukan untuk memperoleh biji kakao kering yang bermutu baik dan memiliki aroma serta cita rasa khas coklat. 

Fermentasi adalah proses perombakan gula dan asam sitrat dalam pulp menjadi asam-asam organik yang dilakukan oleh mikrobia pelaku fermentasi. Asam-asam organik tersebut akan menginduksi reaksi enzimatik yang ada di dalam biji sehingga terjadi perubahan biokimia yang akan membentuk senyawa yang memberi aroma, rasa, dan warna pada kakao.

TAHAPAN PROSES FERMENTASI PADA KAKAO

Proses fermentasi pada kakao melalui 3 tahapan, yaitu :

1)      Tahap anaerobic. Pada tahap ini terjadi konversi gula menjadi alkohol dalam kondisi rendah oksigen dan pH dibawah 4.

2)     Tahap Lactobacillus lactis yang keberadaannya mulai dari awal fermentasi, tetapi hanya menjadi dominan antara 48 dan 96 jam. Lactobacillus lactis mengkonversi gula dan sebagian asam organik menjadi asam laktat.

3)    Tahap bakteri asam asetat, dimana keberadaan bakteri asam asetat juga terjadi selama fermentasi, tetapi peningkatan aerasi. Bakteri asam asetat berperan dalam mengkonversi alkohol menjadi asam asetat. Konversi tersebut akibat reaksi eksotermik yang sangat kuat yang berperan dalam peningkatan suhu. Pada tahap ini suhu bisa mencapai 50 °C atau lebih tinggi pada sebagian fermentasi. 

METODE FERMENTASI PADA KAKAO

Fermentasi dapat dilakukan dalam kotak, dalam tumpukan maupun dalam keranjang. Syarat utama dari alat sebagai wadah fermentasi, yaitu : dapat menampung biji kakao basah/segar dalam jumlah tertentu, memiliki lubang pembuangan (aerasi) bagi pulp, dapat menyimpan panas, serta tahan untuk digunakan beberapa kali proses fermentasi. Fermentasi harus dilakukan ditempat teduh agar terlindung dari hujan dan cahaya matahari langsung. Beberapa metode fermentasi yang dapat dipilih oleh petani antara lain :

1.  Fermentasi kotak

Kotak dibuat dari kayu dengan lubang didasarnya untuk membuang cairan fermentasi atau keluar masuknya udara. Biji ditutup dengan daun pisang atau karung goni untuk mempertahankan panas. Selanjutnya diaduk setiap hari atau dua hari selama waktu 6-8 hari. Kotak yang kedalamannya 42 cm cukup diaduk sekali saja selama 2 hari. Tingkat keasamannya lebih rendah dibandingkan lebih dari 42 cm. Fermentasi tidak boleh lebih dari 7 hari. Setelah difermentasi biji kakao segera dikeringkan.

2.  Fermentasi tumpukan

Fermentasi tumpukan dilakukan dengan cara menimbun atau menumpuk biji kakao segar di atas daun pisang hingga membentuk kerucut. Permukaan atas ditutup daun pisang atau lainnya yang memungkinkan udara masuk, kemudian ditindih dengan potongan kayu. Pada metode ini, fermentasi dilakukan selama 6 hari dengan pengadukan dua kali. 

3.  Fermentasi keranjang

Fermentasi dalam keranjang dilakukan didalam keranjang bambu atau rotan yang telah dilapisi daun pisang dengan kapasitas lebih dari 20 kg. Permukaan biji ditutup daun pisang atau karung. Pengadukan dilakukan setelah 2 hari fermentasi. Caranya dipindahkan ke keranjang lain atau ditempat yang sama kemudian ditutup kembali. Lama fermentasi tidak boleh lebih dari 7 hari. 

PERENDAMAN DAN PENCUCIAN BIJI KAKAO

Tujuan perendaman dan pencucian adalah menghentikan proses fermentasi dan memperbaiki kenampakan biji. Sebelum pencucian dilakukan perendaman ± 3 jam untuk meningkatkan jumlah biji bulat dengan kenampakan menarik dan warna coklat cerah. Pencucian dapat dilakukan secara manual (dengan tangan) atau menggunakan mesin pencuci. Pencucian yang terlalu bersih sehingga selaput lendirnya hilang sama sekali, selain menyebabkan kehilangan berat juga membuat kulit biji menjadi rapuh dan mudah terkelupas. Umunya biji kakao yang dicuci adalah jenis edel sedangkan jenis bulk tergantung pada permintaan pasar. 

PENGERINGAN

Pengeringan berpengaruhi penting terhadap cita rasa dan mutu biji kakao. Pelaksanaan pengeringan dapat dilakukan dengan menjemur, memakai mesin pengering atau kombinasi keduanya. Pada proses pengeringan terjadi sedikit fermentasi lanjutan dan kandungan air menurun dari 55- 60 % menjadi 6-7 %, selain itu terjadi pula perubahan-perubahan kimia untuk menyempurnakan pembentukan aroma dan warna yang baik. 

Suhu pengeringan sebaiknya antara 55-66 ºc dan waktu yang dibutuhkan bila memakai mesin pengering antara 20-25 jam, sedang bila dijemur waktu yang dibutuhkan ± 7 hari apabila cuaca baik,tetapi apabila banyak hujan penjemuran ± 4 minggu. Bila biji kurang kering pada kandungan air diatas 8% biji mudah ditumbuhi jamur.

Demikian penjelasan proses fermentasi pada kakao untuk meningkatkan kualitas biji kakao yang dihasilkan sehingga diperoleh produk coklat dengan mutu tinggi. Semoga bermanfaat.

Oleh      : Zuni Fitriyantini, S.TP.

Sumber : Suci, Y.T., 2010. Fermentasi Kakao. BPTP Jambi.

Jumat, 21 Mei 2021

PASCA PANEN PISANG

Pisang merupakan buah tropis yang sangat akrab dengan masyarakat Indonesia. Keberadaannya bisa disebut sebagai buah rakyat karena mudah ditemui dimana saja tidak memandang status sosialnya. Selain itu pisang juga merupakan buah dengan kandungan vitamin lengkap dan tingkat kecernaan tinggi.

Di daerah sentra buah pisang, ketersediaan buah pisang seringkali dalam jumlah banyak dan keragaman varietas yang luas sehingga dapat membantu mengatasi kerawanan pangan. Pisang dapat digunakan sebagai alternatif pangan pokok karena mangandung karbohidrat yang tinggi, sehingga dapat menggantikan sebagian konsumsi beras dan terigu. Untuk keperluan tersebut, digunakan buah pisang mentah yang kemudian diolah menjadi berbagai produk, baik melalui pembuatan gaplek dan tepungnya maupun olahan langsung dari buahnya.

Buah pisang mempunyai kandungan gizi yang baik, antara lain menyediakan energi yang cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan yang lain. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, besi, fosfor dan kalsium, juga mengandung vitamin B, B6 dan C serta serotonin yang aktif sebagai neutransmitter dalam kelancaran fungsi otak. Nilai energi pisang rata-rata 136 kalori untuk setiap 100 g sedangkan buah apel hanya 54 kalori. Karbohidrat pada pisang merupakan komplek tingkat sedang dan tersedia secara bertahap, sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu yang tidak terlalu cepat. Bila dibandingkan dengan jenis makanan lainnya, mineral pisang khususnya besi dapat seluruhnya diserap oleh tubuh.

Potensi buah pisang segar yang bisa diperdagangkan untuk pasar dalam negeri dan luar negeri sangat besar, mengingat potensi produksi dan areal yang luas ada di Indonesia. Namun, untuk pengembangan potensi tersebut perlu banyak perbaikan, tidak hanya pada budidaya agar menghasilkan buah bermutu, tetapi juga perbaikan penanganan pascapanen karena masih banyak diabaikan. Hal ini menyebabkan keadaan buah pisang yang umumnya dihasilkan para petani memiliki kualitas yang rendah dicirikan dengan ketuaan yang beragam, penampilan buah tidak mulus dan masa segar yang pendek karena cepat rontok. Untuk mendapatkan buah pisang segar matang dengan kualitas tinggi, perhatian harus diberikan sejak penentuan buah untuk dipanen, kebersihan dan pencegahan serangan busuk buah, penanganannya sampai tempat tujuan dan proses pematangannya.

Untuk mempertahankan mutu buah pisang setelah panen, maka penanganan yang baik harus dilakukan sejak panen. Buah setelah panen dikumpulkan di tempat yang teduh, terlindung dari panas. Tandan buah pisang diletakkan berjajar, tidak bertumpuk, dan harus dihindari penetesan getah dari tangkai yang menodai buah pisang, karena penampilan buah menjadi kotor.

Proses pemotongan sisir buah pisang dilakukan untuk menjaga kualitas dalam pemeraman maupun pengiriman. Biasanya pada saat dipotong, tiap sisir akan mengeluarkan getah. Untuk membekukan getah dan sekaligus membersihkan debu dan kotoran yang melekat pada permukaan buah, sisir-sisir pisang segera dimasukkan dalam bak berisi air. Untuk mengendalikan busuk yang disebabkan serangan penyakit pascapanen dapat digunakan salah satu dari beberapa fungisida atau tanpa bahan kimia yaitu menggunakan pencelupan dengan air panas 55oC selama 2 menit.

Pengemasan buah pisang ditujukan untuk melindungi buah dari kerusakan mekanis dan memudahkan penanganan selama pengangkutan untuk distribusi dan pemasaran. Kemasan yang baik juga mampu mengeluarkan panas dan uap air yang dihasilkan oleh buah pisang yang tetap melakukan respirasi. Untuk kemasan buah pisang, terdapat bermacam-macam bentuk, ukuran, dan bahan kemasan. Paling sederhana dan masih banyak digunakan adalah keranjang terbuat dari anyaman bambu, kotak dari kayu, dan kotak dari karton. Apapun kemasannya, yang penting kemasan harus mampu memberikan perlindungan pada buah pisang dari kerusakan seperti luka, tertusuk, dan memar.

Proses pemeraman pisang merupakan salah satu faktor kunci dalam menghasilkan pisang bermutu tinggi. Pada praktek dilapangan, pemeraman dilakukan pedagang di pasar tujuan, bukan petani pisang. Hal ini untuk mengurangi tingkat kerusakan pada waktu pengangkutan karena pisang yang sudah masak akan sangat mudah rusak.

Pemeraman pada lingkungan suhu sejuk dapat menghasilkan pisang matang dengan penampilan kulit buah kuning, namun daging buah masih keras. Pemeraman setidaknya dilakukan sampai buah memiliki indeks warna 3, dimana kondisi buah sudah mulai menguning namun tekstur masih keras dan tahan untuk dikirimkan ke tempat pemasaran.

Stimulasi pematangan sering dilakukan dengan menggunakan gas etilen, gas karbit atau ethrel. Jika menggunakan gas etilen dengan waktu kontak cukup 24 jam. Kesempurnaan hasil pemeraman dipengaruhi oleh dosis bahan pemacu pematangan, suhu, kelembaban dan sirkulasi udara. Proses pematangan yang berjalan sempurna (suhu sejuk, kelembaban tinggi, ventilasi udara di tempat pemeraman baik, dosis bahan pemacu pematangan tepat) menghasilkan warna kulit buah pisang kuning merata, rasa buah manis, aroma kuat dan tidak mudah rontok. Dibutuhkan pengalaman untuk mampu melakukan pemeraman pisang dengan sempurna.

Memperpanjang daya simpan buah pisang berarti mempertahankan buah pisang tetap segar, sehat, dan berwarna hijau dan bertujuan untuk pengaturan distribusi atau pemasaran. Hal ini berkaitan dengan upaya:

  1. menekan aktivitas biologis dengan mempertahankan temperatur rendah yang sesuai (tidak menyebabkan chilling injury) dan mengendalikan komposisi udara lingkungan;
  2. menekan pertumbuhan mikroorganisme perusak dengan mempertahankan temperatur rendah;
  3. menekan penguapan air dari buah dengan mengurangi perbedaan suhu buah dengan suhu lingkungan dan mempertahankan kelembaban tinggi pada ruangan penyimpanan

Sayangnya teknologi memperpanjang daya simpan pisang membutuhkan input investasi yang tinggi sehingga belum banyak dilakukan oleh penjual pisang. Salah satu cara yang dilakukukan untuk menanggulangi hal tersebut adalah dengan melakukan proses pengolahan pisang menjadi sale, sirup, sari buah maupun dodol pisang.

Demikian pembahasan tentang pasca panen pisang. Semoga bermanfaat.

 Oleh               : Zuni Fitriyantini, S.TP.

Sumber          :

Prabawati, S, Suyanti dan D.A. Setyabudi, 2008. Teknologi Pascapanen dan Teknik Pengolahan Buah Pisang. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor.

Selasa, 23 Oktober 2018

PASCA PANEN PADI




Padi merupakan penghasil beras sebagai makanan pokok bagi sebagian besar rakyat Indonesia.  Dengan tingkat kebutuhan beras penduduk yang cukup tinggi, saat ini mencapai 114,6 kg per kapita per tahun(BPS 2017), maka tuntutan untuk menghasilkan produksi padi yang lebih tinggi semakin besar.

Kestabilan ketersediaan stok beras sangat besar pengaruhnya terhadap ketahanan nasional maupun ekonomi bangsa. Usaha untuk meningkatkan produksi telah berhasil dilakukan oleh pemerintah, namun belum diikuti dengan penanganan pascapanen dengan baik. Produksi padi yang melimpah pada saat panen raya menimbulkan berbagai masalah, terutama dalam proses penanganan panen dan pascapanen. Hal ini menyebabkan kualitas gabah yang dihasilkan rendah.

Berbagai faktor mempengaruhi tingkat kehilangan hasil panen antara lain :
-          varietas padi (beberapa varietas padi sangat mudah rontok),
-          umur panen,
Umur panen dapat ditentukan berdasarkan pengamatan visual dengan cara melihat kenampakan padi pada hamparan sawah. Umur panen optimal padi dicapai setelah 90-95% butir gabah pada malai padi sudah berwarna kuning atau kuning keemasan. Padi yang dipanen pada kondisi tersebut akan menghasilkan gabah yang berkualitas sangat baik, dengan kandungan butir hijau dan butir mengapur yang rendah serta rendemen giling tinggi.
-          alat dan cara panen,
Terjadinya potensi susut hasil terbesar yaitu pada saat pemotongan padi, penumpukan padi sementara dan pengumpulan hasil panen. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan panen dengan cara potong atas, kemudian hasil panen ditampung ke dalam karung plastik, dapat menampung gabah rontok antara 3-5%
-          alat perontok,
Alat  perontokan power thresher dengan cara umpan langsung atau umpan telan (through-in) memberikan harapan besar dalam usaha menekan terjadinya susut panen dan susut penumpukan sementara yang selama ini memberikan angka susut yang sangat besar.

Kegiatan pascapanen meliputi kegiatan pemanenan, perontokan, pengangkutan, pengeringan, penggilingan, penyimpanan, dan pemasaran. Titik kritis kehilangan hasil terjadi pada tahapan pemanenan, penumpukan sementara hasil panenan padi dan perontokan padi untuk menghasilkan gabah. Penekanan kehilangan hasil yang dapat di lakukan terutama pada proses pemanenan dengan panen secara berkelompok dan perontokan padi dilakukan dengan menggunakan mesin perontok.

Di beberapa daerah penundaan perontokan atau terjadinya keterlambatan perontokan selalu terjadi. Beberapa hal yang mungkin terjadi selama proses penundaan antara lain :
(1) Kehilangan hasil yang disebabkan oleh gabah yang rontok selama penumpukan atau dimakan binatang
(2) Kerusakan gabah karena adanya reaksi enzimatis, sehingga gabah cepat tumbuh berkecambah, terjadinya butir kuning, berjamur atau rusak.

Perbaikan teknologi penundaan perontokan dapat dilakukan dengan cara : 
(1)  Menggunakan alas plastik pada saat penundaan perontokan padi
(2) Penundaan boleh dilakukan tetapi tidak boleh lebih dari satu malam dengan tinggi tumpukan padi tidak lebih dari 1 m.
 
Penyebab utama kehilangan hasil pada perontokan padi adalah :
(1) perilaku petani yang bekerja kurang hati-hati,
(2) cara penggebotan dan frekuensi pembalikan padi,
(3) kecepatan silinder perontok, disarankan menggunakan perputaran silinder antara 450 – 500 rpm
(4) besarnya alas plastik yang digunakan pada saat merontok.

Ketersediaan alat perontok yang memadai akan lebih mudah mengatasi terjadinya keterlambatan atau penundaan perontokan padi. Dampak yang lebih luas gabah yang dihasilkan mempunyai kualitas yang bagus sehingga dapat mendukung program penyediaan beras berkualitas, beras berlabel yang memenuhi standar SNI serta memberi nilai tambah kepada petani dengan harga jual yang tinggi.

Gabah yang terlambat dikeringkan akan berakibat tidak baik terhadap kualitas berasnya. Hal ini disebabkan gabah hasil panen dengan kadar air tinggi dan kondisi lembab mengalami respirasi dengan cepat. Akibatnya butir gabah busuk, berjamur, berkecambah maupun mengalami reaksi “browning enzimatis” sehingga beras berwarna kuning/kuning kecoklatan.

Kehilangan hasil pada tahapan penjemuran umumnya disebabkan oleh
(1) fasilitas penjemuran seperti lantai jemur maupun alas lainnya yang kurang baik, sehingga banyak gabah yang tercecer dan terbuang saat proses penjemuran dan
(2) adanya gangguan hewan seperti ayam, burung dan kambing.

Kehilangan hasil saat penyimpanan disebabkan oleh kondisi kemasan, tempat penyimpanan, gangguan hama dan penyakit gudang dan keadaan cuaca setempat. Kadar air gabah akan mengikuti kondisi keseimbangan udara luar. Untuk keperluan penyimpanan yang aman agar diperoleh mutu beras yang tinggi, maka diperlukan kadar air berkisar dari 12-14%.

Proses pengilingan adalah proses pengupasan gabah untuk menghasilkan beras yaitu dengan cara memisahkan lapisan lemma dan palea serta mengeluarkan biji beras. Rendemen giling sangat tergantung bahan baku, varietas, derajat masak, cara perawatan gabah dan konfigurasi penggilingan. Pada proses ini ada dua tipe alat penggilingan padi yang digunakan oleh petani yaitu : tipe penggilingan padi 1 phase (single pass) dan tipe penggilingan padi 2 phase (double pass). Penggilingan 1 phase yaitu proses pemecah kulit dan penyosoh menyatu, sehingga proses kerjanya, gabah masuk pada hoper pemasukan dan keluar sudah menjadi beras putih. Sedangkan pada penggilingan 2 phase, dipisahkan antara proses pemecah kulit dan proses penyosohan, sehingga merupakan dua tahap proses kegiatan.

Susut yang terjadi pada tahapan penggilingan umumnya disebabkan oleh penyetelan blower penghisap, penghembus sekam dan bekatul. Penyetelan yang tidak tepat dapat menyebabkan banyak gabah yang terlempar ikut kedalam sekam atau beras yang terbawa kedalam dedak. Hal ini menyebabkan rendemen giling rendah.

Kualitas beras akan ditentukan dalam proses penyosohan (polish). Proses yang baik akan menghasilkan beras dengan penampakan yang cerah dan mengkilat, derajat sosoh yang tinggi. Konfigurasi penggilingan akan berpengaruh terhadap kualitas beras yang ditentukan dengan besaran derajat sosoh, persentase beras pecah maupun butir menir yang terjadi.

Perbaikan sistem penanganan pasca panen padi telah banyak dilakukan dengan tujuan antara lain :
(1) mengurangi atau menekan susut hasil.
(2) mempertahankan kualitas gabah dan beras.
(3) meningkatkan rendemen giling.
(4) meningkatkan nilai tambah dan harga jual beras.

Dengan perbaikan sistem penanganan pasca panen diharapkan mampu untuk meningkatkan produksi beras secara nasional. Meskipun persentase kecil, bila dikalikan dengan jutaan ton juga akan menjadi puluhan bahkan ratusan ton.

Oleh : Aditya Reza Kusuma
           PP Swadaya Desa Boja

Sumber :
Nugraha, Sigit.  2012. Inovasi Teknologi Pascapanen untuk Mengurangi Susut Hasil dan Mempertahankan Mutu Gabah/Beras di Tingkat Petani. Buletin Teknologi Pascananen Pertanian Vol 8 (1), 2012.

Jumat, 13 Januari 2017

PASCA PANEN TANAMAN KELOR





Setelah mengetahui tentang manfaat kelor, perlu diketahui tentang bagaimana cara pemanfaatannya untuk memperoleh hasil yang optimal. Bagian kelor yang sering dimanfaatkan adalah daun dan biji kelor. Berikut adalah cara memanen dan mengolah pohon kelor yang telah di terapkan di wilayah Afrika.

Memanen Daun

Daun kelor dapat dipanen 3-4 bulan setelah tanam. Panen yang baik berlangsung setiap 30 sampai 45 hari.
-      Lakukan panen di bagian paling dingin dalam hari; pagi atau larut malam. Pastikan daun tidak basah dengan embun, khususnya di pagi hari, untuk menghindari pertumbuhan jamur selama transportasi.
-        Potong semua cabang dengan daun 50 cm dari tanah

Mengeringkan Daun :
Daun harus dikeringkan dengan cepat dan jauh dari sinar matahari dan debu untuk menghindari pertumbuhan jamur dan degradasi vitamin oleh sinar ultraviolet (UV).
Dua metode pengeringan utama yang dapat digunakan :
1.    Sebuah penampungan pengeringan dapat dibangun dari bahan-bahan sederhana. Pondok kosong juga dapat digunakan. Harus ada tikar di lantai atau di rak, di mana daun akan disebar dalam lapisan tipis untuk membantu mereka kering dengan baik.
2.    Daun dapat dikeringkan pada jaring, seperti halnya dengan pengeringan tembakau

Memanen biji kelor
Polong dan biji adalah produk kedua yang akan dipanen. Satu pohon kelor dewasa menghasilkan sekitar 200-250 polong, yang sama dengan 1 kg polong. Polong dapat dipanen hijau atau kering.
-        Polong hijau dapat dipanen 7 bulan setelah tanam.
-        Polong kering dapat dipanen sekitar 6 minggu kemudian. Mereka siap untuk dipanen ketika menjadi coklat dan kering, dan membuka dengan mudah.
-        Biji yang diambil, ditempatkan dalam kantong dan disimpan di tempat yang kering.
Karena cabang kelor yang rapuh, tidak dianjurkan untuk mendaki pohon untuk mengumpulkan polong.

Aneka olahan kelor :
1.      Bubuk daun kering
Kaya vitamin, mineral dan protein, daun kelor diolah menjadi bubuk dapat meningkatkan diet anak-anak dan ibu menyusui, dan dapat digunakan sebagai pengobatan untuk diabetes dan gangguan pencernaan dan pernapasan.
Untuk mendapatkan kelor daun bubuk :
-       Cuci dan keringkan daun jauh dari matahari pada hari panen.
-       Dua hari kemudian, pisahkan daun dari tangkai daun, kemudian keringkan
selama 3-4 hari. Kumpulkan dan bersihkan daun kering.
-   Giling daun dalam mortar atau penggilingan. Hasilnya adalah bubuk hijau halus. Pengeringan yang kurang sempurna menghasilkan bubuk berwarna coklat yang tidak cocok untuk konsumsi.
-       Ayak bubuk, masukkan di kotak tertutup rapat atau kantong plastik, dan
simpan di tempat yang teduh dalam wadah untuk menghindari kontaminasi. Dari 100 kg daun segar termasuk tangkai daun, akan mendapatkan sekitar 6,5 kg serbuk daun kering (digiling di mortir).

2.    Bubuk bunga kering
Bubuk bunga kelor kering diproduksi dengan cara yang sama dengan bubuk daun. Bubuk ini digunakan sebagai obat atau sebagai suplemen gizi.

3.    Bubuk dari batang dan tangkai
Setelah disahkan dari daun, batang dan tangkai daun dikeringkan di matahari selama sekitar 15 hari, kemudian ditumbuk di penggilingan untuk memperoleh bubuk. Simpan dalam kantong dan dapat digunakan sebagai produk makanan bagi hewan dan
manusia.
4.    Bubuk dari akar, batang, kulit kayu dan kulit kulit
-      Potong batang dan akar kecil - kecil. Cuci dalam air, kupas batang / kulit kayu, dan potong menjadi potongan yang lebih kecil.
-   Gabungkan potongan menjadi empat batch dari jenis yang sama (akar, batang, kulit akar, kulit pohon).
-    Keringkan secara terpisah di empat keranjang selama sekitar 10 hari. Kemudian giling secara terpisah di penggilingan untuk memperoleh empat serbuk yang berbeda yang dapat digunakan untuk mengobati masalah medis tertentu, termasuk pembengkakan pada kaki (Retensi air), sakit gigi dan kudis.

5.    Bubuk biji kelor
Biarkan polong kering di pohon dan kumpulkan ketika telah kering. Kemudian pisahkan biji dari polong dan giling mereka menjadi bubuk menggunakan lesung dan alu. Bubuk biji kelor digunakan untuk perlakuan dan pemurnian air.
6.    Teh daun kelor
-      Keringkan daun dan batang kelor.
-      Hancurkan daun menjadi lembut dalam mortar.
-      Campur bubuk yang diperoleh dengan batang yang sebelumnya telah dipotong
menjadi potongan-potongan kecil.
-      Kemas campuran ke dalam kantong teh.
-      Konsumsi setelah direndam dalam air panas. Teh kelor sering digunakan sebagai obat pilek.

7.    minyak biji kelor
-      Hancurkan biji kelor dan didihkan dalam air.
-      Buang busa yang naik ke permukaan dengan sendok.
-      Ambil minyak yang mengambang dengan sendok.
Minyak juga dapat diekstraksi dengan menggunakan tekanan hidrolik yang dioperasikan secara manual atau dengan pelarut(misalnya heksan).
Satu liter minyak diperoleh dari 4 kg biji kelor. Minyak ini digunakan dalam
pembuatan kosmetik.

Oleh      : Zuni Fitriyantini, S.TP.  
Sumber : Bidima, Irénée Modeste. 2016. Production and Processing of Moringa.  The Pro-Agro  Collection. Kamerun.