Tampilkan postingan dengan label PEMUPUKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PEMUPUKAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Mei 2024

PEMUPUKAN YANG EFEKTIF UNTUK TANAMAN PADI

                                           

Pupuk merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam budidaya padi. Untuk menghasilkan produksi yang tinggi, pemberian pupuk pada padi bersifat mutlak. Unsur N, P, dan K yang menjadi unsur hara makro untuk pertumbuhan tanaman termasuk padi harus tersedia di lahan pertanian. Oleh karena itu petani perlu melakukan pemupukan secara berkala minimal 2 kali pada satu musim tanam dalam budidaya padi nya.

Pupuk bersubsidi yang biasa digunakan oleh petani untuk memenuhi kebutuhan unsur hara pada budidaya padi saat ini keberadaannya makin sulit diperoleh. Apalagi dengan semakin berkurangnya jatah pupuk bersubsidi setiap tahunnya. Sering terjadi pemberian pupuk telat dilakukan karena pupuk bersubsidi di kios stok nya habis. Padahal waktu pemupukan yang tepat juga sangat mempengaruhi hasil produksi padi. Petani memerlukan solusi tentang pemupukan yang efektif untuk tanaman padi sehingga dapat memperoleh hasil yang optimal.

                   Pemupukan yang efektif dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :

1.  pH lahan

pH lahan sangat mempengaruhi efektivitas pemupukan karena kadungan unsur hara makro yang sangat dibutuhkan oleh tanaman padi hanya dapat terserap optimal oleh akar tanaman dalam kondisi pH netral. Hal ini kurang diperhatikan oleh petani sehingga mereka sering menggunakan pupuk dalam jumlah yang melebihi kebutuhan.

Penggenangan air yang terus menerus pada lahan sawah merupakan salah satu yang dapat menurunkan pH lahan. Selain itu, pemupukan berlebih juga dapat menurunkan pH lahan karena adanya pelepasan ion H yang terurai dari pupuk yang diberikan petani.

Untuk meningkatkan kadar pH lahan yang cenderung rendah, perlu dilakukan penambahan kapur pertanian. Rumus penggunaan kapur pertanian per Ha lahan yaitu :

Kapur pertanian yg dibutuhkan = (pH yang dituju – pH saat ini) x 2.000 Kg

Pemberian kapur pertanian cukup di sebar di lahan sawah sewaktu olah tanah.

Produk kapur pertanian yang ada di pasaran antara lain Kebo Mas dan Dolomit.

 

2.  Jenis pupuk

Jenis pupuk yang digunakan sangat mempengaruhi efektifivas pemupukan. Pada awal pertumbuhan tanaman padi sangat diperlukan unsur N sehingga pupuk yang paling tepat adalah pupuk dengan kadar N tinggi.

Ada berbagai macam jenis pupuk non subsidi yang ada di pasaran. Beberapa yang mengandung unsur N tinggi dan dapat diberikan untuk awal pertumbuhan ketika masih fase vegetatif antara lain NPK daun, Ultradap, dan KNO merah.

Sedangkan untuk fase generatif tanaman padi membutuhkan unsur P dan K yang lebih banyak.  Beberapa pupuk yang mengandung unsur P dan K antara lain NPK buah, MKP dan KNO putih.

Selain kandungan unsur hara yang ada pada pupuk, perlu juga diperhatikan tingkat kelarutannya di dalam air. Apabila pupuk mudah larut dalam air maka dapat diaplikasi dengan kocor maupun semprot, sedangkan bila kurang larut air lebih efektif menggunakan sistem tabur atau sebar. Misal pupuk yang kurang larut dalam air mau diaplikasikan dengan sistem kocor, disarankan untuk tidak menggunakan sprayer karena endapannya dapat menyumbat nozel. Lebih baik disiramkan ke tanaman.  

3.  Dosis pupuk

Dosis pupuk yang tepat juga sangat mempengaruhi efektifivas pemupukan. Dosis pupuk disesuaikan dengan label kemasan, karena beda merk beda dosis yang di gunakannya. Bila ingin mencampur pupuk dengan merk yang berbeda, pastikan keduanya tidak saling bertolak belakang. Pastikan pupuk tunggal N tidak dicampur dengan K dalam aplikasi agar tidak terjadi pengikatan unsur hara.

Uji kelarutan pencampuran pupuk juga perlu dilakukan untuk memastikan bahwa pupuk yang dicampur tersebut dapat larut dengan baik.

Cara sederhana uji kelarutan pupuk adalah dengan melarutkannya dalam segelas air. Apabila larut sempurna berarti pupuk tersebut dapat di campur. Akan tetapi bila terjadi endapan maka pupuk tersebut tidak dapat di campur dalam pengaplikasiannya. 

4.  Cara aplikasi pupuk

Cara aplikasi pupuk yang dilakukan petani dengan disebar seperti yang biasa dilakukan saat ini sebenarnya sangat tidak efektif karena banyak yang terbuang percuma. Sebagian besar unsur hara yang ada pada pupuk mengalami larut serap dan terikat tanah sehingga hanya sebagian kecil saja yang dapat di serap tanaman.

Cara aplikasi sistem kocor dan semprot diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pemupukan. Apalagi dengan penggunaan pupuk yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sistem sebar tentunya sangat mengurangi biaya produksi bagi petani.

Yang perlu diperhatikan dalam aplikasi pupuk menggunakan sistem kocor adalah jangan sampai terkena tanaman muda karena kemungkinan daun akan gosong. Jadi pada waktu pemupukan pertama, lebih fokus pada tanah sekitar tanaman muda. Untuk sistem semprot dapat digunakan pada waktu tanaman sudah kuat. Pemukukan kedua dapat menggunakan sistem ini. 

5.  Waktu aplikasi pupuk

Waktu aplikasi pupuk dengan sistem kocor harus memperhatikan kondisi cuaca. Usahakan pemupukan dilakukan pada waktu sinar matahari belum terik tapi embun pagi sudah hilang atau sore hari ketika matahari sudah tidak panas. Apabila pemupukan dilakukan pada waktu sinar matahari terik maka akan banyak yang menguap sehingga menurunkan efektivitas pemupukan.Petani sering tidak memperhatikan waktu aplikasi pupuk dengan alasan kesibukan mereka. Padahal waktu aplikasi yang tidak tepat malah membuang waktu, tenaga, dan uang petani.  

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pemupukan akan efektif apabila pH tanah telah dalam kondisi normal serta penggunaan pupuk dengan memperhatikan tepat jenis, tepat dosis, tepat aplikasi dan tepat waktu.  Kelima hal tersebut saling berkaitan sehingga tidak ada yang boleh diabaikan apabila menginginkan pemupukan yang efektif. 

Pengetahuan tentang kondisi kandungan unsur hara yang ada pada tanah sebenarnya sangat penting untuk memformulasikan kebutuhan pupuk tanaman. Akan tetapi fasilitasi dari pemerintah untuk pengadaan alat PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah) maupun PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering) sudah tidak ada. Saat ini alat pengukur unsur hara tanah banyak di jual secara online. Ini dapat dijadikan salah satu alternatif petani bila ingin mengefektifkan pemupukan. 

Pemberian pupuk organik secara berkala ke lahan sawah juga dapat meningkatkan efektivitas pemupukan tanaman. Pupuk organik meski mengandung unsur hara makro yang sedikit, namun mengandung unsur hara mikro serta dapat meningkatkan aktivitas biota tanah sehingga dapat memperbaiki sifat fisik, kimia maupun biologis tanah.

Oleh : Zuni Fitriyantini, S.TP.

REFERENSI :

1.  https://saprotan-utama.com/product-category/semua-produk/

2.  http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/98675/Pupuk-Organik/

3. Fitriyantini, Z. 2019. Materi Sl Padi Budidaya Padi Sistem Pertanian Terpadu. Bahan Ajar. BPP Tersono

Senin, 25 Maret 2024

PEMBUATAN MIKRO ORGANISME LOKAL DARI LIMBAH RUMAH TANGGA

 


Limbah rumah tangga yang dihasilkan sehari hari ada yang berupa bahan organik, seperti sisa sayur, buah, serta potongan daun dan bunga dari pekarangan. Bahan – bahan tersebut ternyata dapat diolah menjadi Mikro Organisme Lokal (MOL).  

Mikro Organisme Lokal (MOL)merupakan salah satu ramuan jitu yang sering digunakan oleh petani organik di lahan pertaniannya. Sesuai dengan namanya, MOL terdiri atas mikro organisme lokal yang ada di sekitar kita., termasuk limbah rumah tangga. Larutan Mikro Organisme Lokal (MOL) adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumber daya yang tersedia setempat. Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi merombak bahan organik, perangsang pertumbuhan, dan sebagai agen pengendali hama dan penyakit tanaman, tergantung bahan penyusunnya.  Dengan demikian MOL dapat berfungsi sebagai :

  Dekomposer

  Pupuk hayati

  Pestisida organik terutama sebagai fungisida

  Zat perangsang tumbuh

Keunggulan penggunaan MOL yang paling utama adalah mudah dan murah bahkan tanpa biaya. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, petani dapat kreatif membuat MOL dari bahan-bahan seperti buah-buahan busuk (pisang, papaya, mangga dan lain-lain), rebung bambu, pucuk tanaman merambat, tulang ikan, keong, urine sapi, bahkan sampai urin manusia, darah hewan, bangkai hewan, air cucian beras, dan sisa makanan.

Bahan utama dalam membuat MOL terdiri dari 3 jenis / komponen antara lain :

1.   Karbohidrat

Bahan ini dibutuhkan mikroorganisme sebagai sumber energi. Beberapa bahan yang dapat digunakan yaitu : air cucian beras (tajin), nasi bekas, singkong, kentang. Gandum, tetapi yang paling sering digunakan adalah air cucian beras. 

2.  Glukosa

Bahan ini merupakan sumber energi instan untuk mikroorganisme sebelum mengurai karbohidrat. Ia dapat diperoleh dari gula merah, ula pasir, gula batu, air gula, molases, air nira, dan air kelapa.

3. Sumber bakteri

Bahan ini merupakan sumber utama dari mikroorganisme yang akan dikembangkan. Ia dapat diperoleh dari keong mas, buah – buahan busuk, sayuran sisa, bonggol pisang, rebung bambu, urine hewan, nasi basi, tape dan masih banyak lagi.

Cara membuat MOL itu mudah, semua  yang ada di sekitar kita dapat dipakai, semua bahan dicampur dengan larutan yang mengandung glukosa seperti air nira, air gula atau air kelapa. Lalu ditutup dengan kertas, dibiarkan sampai 7 hari. Setelah itu larutan MOL sudah bisa dipakai.

Beberapa resep MOL yang dapat dibuat menggunakan limbah dapur antara lain :

1.   MOL Sayur

Bahan :

-          10 kg limbah sayuran hijauan (sawi, bayam, kol, brokoli, kangkung, caisim dll)

-          Garam 5 % dari berat bahan

-          Air cucian beras 10 liter

-          Gula merah/ gula jawa 2 % dari cairan yang peroleh setelah 3 minggu

Cara membuat :

Bahan sayuran dipotong kecil-kecil / tipis-tipis lalu dimasukkan ke ember/ drum, setiap ketebalan 5 cm ditaburi garam secukupnya. Tambahkan air cucian beras hingga 10 liter. Tutup drum/ ember dengan plastik lalu ikat dengan rafia atau karet. Tuangkan air diatas plastik tersebut agar wadah bisa tertutup rapat. Setelah 3-4 minggu ember/ drum dibuka, dan cairan yang diperoleh diambil (biasanya berwarna kuning kecoklatan atau sesuai bahan sayurnya). Tambahkan gula jawa/ gula merah sebanyak 2 % dari cairan tersebut. Kalau cairannya 20 liter berarti butuh 4 ons gula.

Fungsi :

Dekomposer, pembentukan malai padi

Cara Penggunaan :

Saring dan larutkan 4 liter MOL urine dalam 17 liter air bersih. Aduk rata dan semprotkan pada tanaman. 

2. Mol Limbah Buah-buahan

Bahan :

-   10 Kg  limbah buah-buahan

-   1 Kg gula merah

-   10 liter air kelapa

Cara Membuat :

Buah-buahan dihaluskan dan masukkan drum plastik. Campurkan 10 liter air kelapa. Tambahkan gula merah yang telah dicairkan. Tutup rapat drum plastik. Masukkan slang plastik, sambungkan ke dalam botol yang telah berisi air.

Fungsi :

Dekomposer, penghambat pertumbuhan vegetatif, pemicu pertumbuhan generatif.

Cara Penggunaan :

-    Pengomposan 1 : 5 tambah 1 ons gula merah

-    Penyemprotan tanaman : 400 cc mol : 14 liter air pada akhir pertumbuhan vegetatif, pada tanaman padi umur 55-60 hst

3. Mol Nasi

Bahan :

-   1 piring nasi basi

-   6 sendok makan gula pasir

-   2 liter air

Cara Membuat :

Nasi basi dibuat bulat sebesar bola pimpong. Kemudian disimpan dalam wadah dan ditutup rapat selama 1 minggu. Setelah itu nasi basi akan ditumbuhi jamur atau cendawan. Siapkan air 2 liter, masukkan nasi basi yang berjamur tadi dan tambahkan gula pasir 6 sendok makan. Masukkan larutan tersebut kedalam botol lalu ditutup biarkan selama 4 hari. Kemudian cairan itu disaring dan siap digunakan. MOL sudah dikatakan siap pakai apabila tercium bau masam manis

Fungsi :

Dekomposer, pupuk daun dan pupuk kocor.

Cara Penggunaan :

-          Sebagai dekomposer ;

Campurkan MOL dengan air dengan perbandingan 1 : 5 ( 1 bagian MOL : 5 bagian air). Siramkan pada bahan organik yang akan dibuat kompos,

-          Sebagai pupuk daun ;

Campurkan MOL dengan air dengan perbandingan 200 ml MOL untuk 14 liter air, kemudian semprotkan pada tanaman,

-          Sebagai pupuk kocor ;

Campurkan 300 ml MOL dengan 10 liter air, kemudian kocorkan pada tanaman dengan dosis 250 ml/tanaman. Hati-hati jangan sampai mengenai batang tanaman.

Demikian pembahasan tentang pembuatan mol dari limbah rumah tangga. Semoga bermanfaat.

 

Oleh : Zuni Fitriyantini, S.TP.


REFERENSI :

1.    Redaksi Trubus. 2012. Mikroba, Juru Masak Tanaman Dongkrak Hasil Panen 3 Kali Lipat. Trubus : Jakarta.

2.  Suwarso, D dan G. Nuryatno. 2013. Teknologi Pembuatan MOL dan Probiotik. Disampaikan pada Diklat Pengembangan Pupuk Organik Bagi Penyuluh Pertanian. Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah.


 


Jumat, 17 Februari 2023

PUPUK ALTERNATIF UNTUK TANAMAN PADI

      


Pupuk merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam budidaya padi. Untuk menghasilkan produksi yang tinggi, pemberian pupuk pada padi bersifat mutlak. Unsur N, P, dan K yang menjadi unsur hara makro untuk pertumbuhan tanaman termasuk padi harus tersedia di lahan pertanian. Oleh karena itu petani perlu melakukan pemupukan secara berkala minimal 2 kali pada satu musim tanam dalam budidaya padi nya.

Pupuk bersubsidi yang biasa digunakan oleh petani untuk memenuhi kebutuhan unsur hara pada budidaya padi saat ini keberadaannya makin sulit diperoleh. Apalagi dengan pemberlakuan kartu tani 100 % untuk penebusan pupuk bersubsidi yang semakin mempersulit pembelian pupuk. Sering terjadi pemberian pupuk telat dilakukan karena pupuk bersubsidi di kios stok nya habis. Padahal waktu pemupukan yang tepat juga sangat mempengaruhi hasil produksi padi. Petani memerlukan pupuk alternatif untuk tanaman padi.

                   Beberapa alternatif yang dapat dilakukan oleh petani untuk mengatasi susahnya memperoleh pupuk bersubsidi adalah dengan penggunaan pupuk non subsidi ataupun penggunaan pupuk organik. Hal tersebut sudah di ketahui oleh petani namun banyak petani yang belum melaksanakannya. Mereka berkeberatan dengan harga pupuk non subsidi yang 2 – 3 x lebih mahal dari pupuk bersubsidi. Sedangkan untuk pupuk organik, petani belum percaya pada hasilnya karena tidak bisa lansung dirasakan. Mereka juga merasa penggunaan pupuk organik terlalu ribet dalam penyiapan maupun aplikasinya.  Namun untuk saat ini kedua alternatif tersebut lah yang dapat dijadikan sebagai solusi susahnya memperoleh pupuk bersubsidi. Berikut akan di bahas satu per satu tentang hal tersebut.

1.  Penggunaan Pupuk Non Subsidi

Pupuk non subsidi adalah pupuk yang harganya tidak di subsidi oleh pemerintah sehigga lebih mahal dari pupuk bersubsidi. Tersedia berbagai macam produk pupuk non subsidi yang ada di pasaran.

Petani padi enggan menggunakan pupuk bersubsidi karena harganya yang 2 – 3 x pupuk subsidi. Akan tetapi petani sayur lebih banyak menggunakan pupuk non subsidi karena kualitas nya jauh lebih bagus. Penggunaan pupuk non subsidi pada tanaman sayur meningkatkan hasil panen yang sangat signiifkan.

Petani padi bisa menggunakan dosis pemberian pupuk lebih sedikit dari penggunaan biasanya untuk mengurangi biaya produksi bila menggunakan pupuk non subsidi.

2.  Penggunaan Pupuk Organik

Pupuk organik sebenarnya sudah banyak di gunakan oleh petani yang menerapkan prinsip pertanian organik. Berbagai macam produk pupuk organik, khususnya pupuk organik cair sudah ada di pasaran. Akan tetapi, petani tidak tertarik menggunakan pupuk organik karena hasilnya tidak dapat langsung terlihat di tanaman.

Namun dengan kondisi pupuk bersubsidi tidak dapat diperoleh pada waktu yang dibutuhkan, penggunaan pupuk organik dapat dijadikan sebagai alternatif untuk memperoleh solusi dari permasalahan tersebut. Apalagi bahan – bahan yang diperlukan untuk pembuatan pupuk organik ada di sekitar petani. Hanya butuh usaha dari petani untuk mengumpulkan dan membuatnya, tanpa mengeluarkan uang yang banyak. Apalagi bila bahan organik yang digunakan adalah jerami padi yang selama ini sering di anggap sebagai limbah pertanian.

Jerami padi bila di olah menjadi pupuk kompos dapat mengembalikan unsur hara penting seperti N,P, dan K ke tanah. Sekitar 40% N, 30-35% P, 80-85% K, dan 40-50% S tetap dalam sisa bagian vegetatif tanaman. Jerami juga merupakan sumber hara mikro penting seperti seng (Zn) dan silikon (Si). Pembenaman tunggul dan jerami ke dalam tanah merupakan upaya mengembalikan sebagian besar hara yang telah diserap tanaman dan membantu pelestarian cadangan hara tanah dalam jangka panjang. Sutanto (2002) menyatakan bahwa pembakaran jerami dapat menyebabkan kehilangan unsur hara N mencapai 93 % dan K sebesar 20 %. Hal itu tentu sangat disayangkan bila terus dilakukan.

Pupuk organik padat yang sering digunakan pada budidaya tanaman padi adalah yang berasal sari kotoran ternak, baik ayam, kambing maupun sapi. Ketiga kotoran ternak tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing. Ketiganya baik di gunakan unuk menambah unsur hara pada lahan pertanian asalkan telah benar – benar matang baik melalui proses fermentasi buatan maupun alami. Pupuk organik yang belum matang sempurna malah akan memberi dampak yang kurang baik bagi tanaman.

Selain pupuk organik padat, pupuk organik cair juga dapat digunakan untuk pemupukan tanaman padi. Produk – produk pupuk organik cair yang ada di pasaran sering mengunggulkan kandungan mikroba yang terkandung di dalamnya. Apabila petani merasa keberatan untuk membeli pupuk organik cair yang ada di pasaran, petani dapat membuat sendiri dengan bahan yang ada di sekitar dan tujuan penggunaannya.

Aplikasi pupuk organik cair dapat disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman padi sehingga lebih tepat sasaran. Pupuk organik cair yang mengandung unsur N tinggi dapat diberikan pada tanaman padi yang masih dalam fase vegetatif. Sedangkan pupuk organik cair yang mengandung unsur P dan K  tinggi dapat diberikan pada fase generatif.

                        Dengan menggunakan pupuk organik, kebutuhan pupuk anorganik dalam hal ini pupuk bersubsidi dapat dikurangi sedikit demi sedikit. Efek penggunaan pupuk organik memang tidak dapat langsung terlihat dalam waktu dekat, namun dalam waktu yang lama dapat memperbaiki kondisi lahan pertanian sehingga mampu meningkatkan hasil produksi.

Oleh : Zuni Fitriyantini, S.TP.
Dari berbagai sumber

Senin, 26 April 2021

METODE PEMUPUKAN YANG TEPAT UNTUK TANAMAN

 

Pupuk merupakan salah satu sarana produksi dalam budidaya tanaman yang merupakan salah satu faktor penentu hasil produksi tanaman. Keberadaannya bagaikan makanan bagi manusia, tak dapat dihilangan terutama dalam tanaman budidaya.

Proses pemberian pupuk pada tanaman disebut pemupukan. Pemupukan dilakukan karena dalam tanah hara telah mengalami perubahan berupa menguap, tercuci, perkolasi, diserap tanaman dan dibawa panen. Latar belakang pemupukan disebabkan oleh :

  • Tanah miskin hara.
  • Pertumbuhan tanaman terhambat walaupun sudah dilakukan penyiangan dan ditemukan gejala kekurangan unsur hara.
  • Pertumbuhan tanaman perlu dipercepat untuk mengurangi risiko akibat persaingan dengan gulma.
  • Ingin meningkatkan hasil pertambahan pertumbuhan (tiap volume) per satuan luas pada akhir daur.

Pemupukan akan memberikan manfaat bagi pertanaman jika memberikan nilai tambah hasil pada tanaman. Kemanfaatan pemupukan diukur dengan nilai efisiensi pupuk. Pemupukan yang efisien akan menghemat penggunaan pupuk, karena dengan jumlah pupuk yang lebih sedikit akan diperoleh hasil yang sama atau lebih tinggi.

Salah satu faktor yang menentukan efisiensi pupuk adalah penerapan metode pemupukan yang tepat. Pemilihan cara pemupukan yang tepat sangat tergantung pada jenis tanah, kadar lengas, daya fiksasi tanah terhadap hara, pengolahan, jenis tanaman, sistem perakaran, kemampuan tanaman menyerap hara dan macam pupuk yang diberikan. Ada beberapa cara pemupukan yang dilakukan pada usaha tani yaitu :

1. Cara Disebar

Pemupukan ini dilakukan dengan cara menyebar pupuk secara merata di seluruh areal lahan yang ditanami, dapat dilakukan sebelum atau sesudah ada tanaman. Pemupukan dengan cara ini akan menghemat tenaga, namun dalam pelaksanaannya harus dihindari tanaman dalam kondisi basah, terutama pemupukan N dan K. Jika dalam kondisi basah daun dapat terbakar. Pemupukan ini umumnya dilakukan pada pupuk dasar dan susulan, seperti tanaman padi, jagung, kedelai dll.

Pemupukan dengan cara disebar harus memperhatikan beberapa hal, yaitu :

  • Tanaman ditanam pada jarak tanam yang rapat, baik teratur dalam barisan maupun tidak teratur dalam barisan.
  • Tanaman mempunyai akar yang dangkal atau berada pada dekat dengan permukaan tanah.
  • Tanah mempunyai kesuburan yang relatif baik.
  • Pupuk yang dipakai cukup banyak atau dosis permukaan tinggi.
  • Daya larut pupuk besar.

Namun pemupukan dengan cara disebar tentunya akan mengurangi efektivitas pemupukan. Secara umum pemupukan cara disebar menyebabkan kerugian yang berupa :

  • Penyebaran atau pencampuran pupuk tidak merata pada semua lapisan olah tanah.
  • Memerlukan jumlah yang besar, karena sebagian akan mengalami kehilangan melalui pencucian dan penguapan.
  • Memerlukan alat atau tangan dalam mengaplikasikan.

Pemupukan dengan cara disebar membutuhkan kondisi yang ideal terutama lingkungan, khususnya ketika pemupukan susulan. Pada saat pemupukan susulan diusahakan daun dalam kondisi kering, jika kondisi basah pupuk akan menempel pada daun dan menyebabkan plasmolisis atau daun mengering terbakar. Bahaya daun terbakar terutama pada pupuk nitrogen dan kalium.

2. Cara Dibenamkan

Pemupukan dengan cara dibenam dapat dilakukan pada jalur dengan meletakkan pupuk padat atau menyemprotkan cairan ke dalam tanah sebelum tanam. Pembenaman pupuk dapat dilakukan dengan menggunakan alat sederhana (bajak atau garu). Pembenaman pupuk dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu :

-    Pembenaman lapisan bajak, yaitu dengan cara pupuk diletakkan di bekas alur bajak, kemudian ditutup dengan pembalikan tanah alur berikutnya.

-    Pembenaman dalam Pupuk N, yaitu pupuk N disebar di permukaan tanah, kemudian dibalik pada waktu pembajakan, sehingga pupuk posisinya berada dalam tanah. Pemberian pupuk dilakukan sebelum lahan diairi.

-    Pembenaman Setempat, yaitu pupuk diberikan pada alur atau lubang tertentu dekat tanaman atau memasukkan pupuk ke dalam lubang di samping tanaman dengan jarak tertentu. Perlakuan pemupukan model ini umumnya dilakukan pada tanaman tahunan.

-     Pembenaman pupuk melalui penugalan di sekitar tanaman.

Penugalan biasanya dilakukan pada tanaman palawija.

Pemupukan dengan cara dibenamkan perlu mempertimbangkan beberapa hal, yaitu:

-    Pupuk yang digunakan relatif sedikit.

-  Jarak tanam antara tanaman yang dipupuk cukup jarang dan jarak antara barisan pertanaman cukup jarang.

-    Kesuburan tanah rendah.

-    Tanaman dengan perkembangan akarnya yang sedikit.

-    Untuk tanah tegalan atau darat.

-    Bila mengkhawatirkan akan terjadi pengikatan unsur hara oleh tanah dalam jumlah yang cukup besar.

3. Melalui Daun

Pemupukan dilakukan dengan cara menyemprotkan pupuk melalui daun. Pemupukan melalui daun harus lebih hati-hati terutama dalam menentukan dosis larutan yang digunakan, karena pemupukan melalui daun terdapat beberapa kendala yaitu :

  • Pinggir daun sering terbakar karena larutan terlalu pekat.
  • Memerlukan frekuensi yang lebih banyak, karena hara yang diberikan rendah.
  • Biaya persatuan hara tinggi.

Penggunaan pupuk melalui daun harus mempertimbangkan beberapa aspek antara lain :

-       Unsur hara sulit diambil tanaman melalui akar tanah, misalnya tanaman yang tumbuh pada tanah berpasir atau tanah-tanah yang berbatu.

-          Jumlah unsur hara yang dibutuhkan tanaman sangat sedikit (unsur hara mikro).

-          Kondisi dan sifat fisik pupuk yang buruk.

Pemupukan lewat daun dilakukan dengan cara pupuk dilarutkan ke air dengan konsentrasi sangat rendah kemudian disemprotkan langsung kepada daun. Pemberian pupuk melalui daun harus mempertimbangkan :

  • Konsentrasi larutan pupuk dibuat sangat rendah atau mengikuti petunjuk dalam kemasan pupuk. Pembuatan konsentrasi larutan pupuk jangan terlalu pekat.
  • Pupuk daun disemprotkan ke bagian daun yang menghadap ke bawah, karena stomata umumnya menghadap ke bawah.
  • Penyemprotan dilakukan pagi atau sore ketika matahari belum begitu menyengat. Hal ini bertujuan untuk mengurangi penguapan hara pada saat penyemprotan.
  • Penyemprotan pupuk daun jangan dilaksanakan menjelang musim hujan dengan tujuan untuk menghindari pencucian oleh air hujan.

4. Melalui Udara

Pupuk padat maupun cair dapat diberikan lewat udara dengan cara disebar melalui pesawat udara. Pemupukan melalui udara umumnya dilakukan pada lahan yang curam, sukar dilewati, lahan luas atau pemupukan di hutan dan padang rumput.

5. Melalui Injeksi ke Dalam Tanah

Pemupukan dengan injeksi bertujuan untuk mengurangi kehilangan hara akibat penguapan. Pada umumnya pemupukan dengan injeksi dilakukan pada pupuk dengan kadar N yang tinggi. Pemupukan dilakukan dengan pupuk dimasukkan injeksi kemudian dimasukkan ke tanah.

6. Melalui Sprinkler Irigation

Pemupukan ini merupakan langkah efisiensi, karena pemupukan dilakukan dengan memasukkan pupuk ke penampungan, kemudian dipompa dan disemprotkan ke udara, sehingga membasahi tanaman. Model ini banyak diterapkan pada model pertanian aeroponik dan perkebunan kopi.

Demikian beberapa metode pemupukan yang dapat dilakukan pada tanaman. Pilih metode pemupukan menyesuaikan dengan jenis tanaman, bentuk pupuk yang akan diberikan, musim dan kondisi lahan.

Oleh               : Zuni Fitriyantini, S.TP.

Sumber          :

Rajiman, 2020. Pengantar Pemupukan. Deepublish. Yogyakarta.